Silsilah
Pemegang tahta ketiga Biara Palyul.

Sebuah teks terma ramalan karya Ratna Lingpa menyebutkan bahwa kelak akan muncul seseorang bernama Norbu dari sebelah selatan Kathog. Sesuai makna ramalan vajra yang tak pernah meleset ini, sosok agung Pemegang Tahta Ketiga, Drubwang Pema Norbu, lahir pada tahun 1679 di tempat bernama Ah Chog.
Sejak awal, kemuliaan batinnya telah terjaga, sehingga ia mampu membaca dan menulis tanpa kesulitan berarti. Di tempat meditasi suci Mugsang, Vidyadhara Migyur Dorje, sang penemu harta karun agung, dengan penuh welas asih mengambilnya sebagai murid dan menganugerahkan berbagai ajaran mendalam, termasuk Namchö. Ia menerima seluruh ajaran itu secara utuh, bagaikan air yang dituang dari satu kendi penuh ke kendi lain tanpa tumpah setetes pun, dan diberi mandat penuh sebagai pemegang ajaran-ajaran tersebut.
Ia juga menerima banyak ajaran, pemberdayaan, dan transmisi lisan dari Rigzin Kunzang Sherab. Namun secara khusus, ia menaruh kepercayaan penuh pada Khenchen Pema Lhundrup Gyatso sebagai guru akarnya, dan menerima ikrar penahbisan penuh langsung dari beliau. Melalui gurunya ini, ia menerima seluruh silsilah ajaran pematangan dan pembebasan tradisi Palyul secara utuh dan tak terputus, mencakup Ngagyur Kama (ajaran yang diwariskan secara lisan) maupun Terma (ajaran harta karun).
Melalui praktik atas seluruh ajaran ini, ia mencapai keyakinan penuh dalam pandangan kemurnian primordial lewat praktik Trekchöd (pemutusan langsung), dan merealisasikan tingkat kesadaran murni melalui Tögal (lompatan langsung menuju kehadiran spontan). Karena pencapaiannya yang sempurna dalam kedua praktik inti Dzogchen ini, ia dikenal dengan gelar Drubwang (Sang Penguasa Pencapaian) Pema Norbu, dan namanya menjadi masyhur ke berbagai penjuru.
Ia menjadi pemegang Vinaya tertinggi dan menganugerahkan penahbisan penuh kepada ratusan biksu di komunitas monastik. Pada suatu kesempatan, ketika berkunjung ke istana Raja Dharma Tenpa Tsering sebagai penasihat spiritual utama, ia menampilkan tarian ritual akar Vajrakilaya tanpa kakinya menyentuh tanah sama sekali, disaksikan langsung oleh banyak orang yang beruntung hadir di sana. Sakya Dagchen, yang saat itu memandang ke arah timur, berkata bahwa seorang makhluk agung yang telah mencapai tingkatan bhumi (tahapan realisasi bodhisattva) baru saja menampilkan tarian Vajrakilaya, dan siapa pun yang menyaksikan atau mendengar tentang tarian itu akan dituntun menuju pembebasan.
Selama masa tinggalnya di Dege Changra, ia untuk pertama kalinya memperkenalkan tradisi praktik sadhana Thugchen Kyedun Rilbu (Pil Berkah Tujuh Kelahiran Berturut-turut Avalokiteshvara). Aktivitas tercerahkannya bagi kebaikan ajaran dan makhluk hidup sungguh tak terbayangkan luasnya. Di antara murid-muridnya yang menjunjung silsilah ini adalah Khedrup Karma Tashi.
Pada tahun 1757, dalam usia 79 tahun, kesadaran kebijaksanaannya larut ke dalam dharmadhatu.