Silsilah
Pemegang tahta kesebelas Biara Palyul.

Pemegang Tahta Kesebelas yang mulia, Jigmed Thubten Shedrub Chökyi Drayang, dijuluki sebagai penguasa segenap makhluk dan pemimpin seluruh mandala, telah diramalkan jauh sebelumnya oleh master Dzogchen kelima, Thubten Chökyi Dorje. Ramalan itu menggambarkan sebuah tempat suci di wilayah Powo bagian atas, di puncak tebing gunung yang indah, dikelilingi pepohonan, danau, dan kolam, dengan sungai sejuk yang mengalir ke selatan. Di sanalah, kepada sepasang orang tua yang namanya mengandung kata "Sonam" dan "Kyid" (melambangkan metode dan kebijaksanaan), akan lahir seorang anak mulia pada Tahun Kera, lengkap dengan tanda-tanda dan kualitas yang membawa berkah, yang kelak akan membawa manfaat besar bagi Dharma dan makhluk hidup.
Sesuai ramalan itu, ia lahir pada tahun 1932, Tahun Kera Air Jantan dalam siklus Rabjung keenam belas, dari ayahnya Sonam Gyurmed dan ibunya Dzomkyid (namanya sendiri menggemakan "Sonam" dan "Kyid" dari ramalan). Khenchen Ngagi Wangpo mengenalinya sebagai reinkarnasi Drubwang Palchen Düpa (pemegang tahta kesembilan).
Ia diundang ke Biara Palyul Namgyal Jangchub Chöling saat berusia lima tahun. Ia mempersembahkan rambut di ubun-ubunnya kepada Khenchen Ngagi Wangpo dan menerima pemberdayaan pertama Manjushri dari tradisi tantra sebagai hadiah yang membawa berkah. Chogtrul Thubten Chökyi Dawa menganugerahkan kepadanya ikrar praktisi awam, yaitu perlindungan pada Tiga Permata. Ia dinobatkan di atas tahta emas di hadapan seluruh komunitas sangha yang dipimpin oleh Karma Thegchog Nyingpo, pemegang tahta kesepuluh Palyul, dalam sebuah upacara yang megah. Pemberdayaan Rinchen Terzöd (Koleksi Agung Ajaran Harta Karun Berharga) dan banyak lainnya turut dianugerahkan.
(Catatan: sumber menyebut usia dua belas tahun untuk peristiwa ikrar praktisi awam ini, namun juga mencantumkan tahunnya sebagai 1936, padahal jika lahir 1932, usia dua belas seharusnya jatuh sekitar 1944. Kemungkinan ada kekeliruan angka tahun atau usia di sumber asli, perlu dicek lebih lanjut ke Lopon Nyima Wodzer Rinpoche.)
Pada tahun 1944, ia menerima ikrar samanera dari Khenpo Chogtrul Chökyi Dawa, dan pada tahun berikutnya di Biara Darthang menerima seluruh ajaran pematangan dan pembebasan Namchö, termasuk praktik pendahuluannya, yang diwariskan dari inkarnasi sebelumnya, Drubwang Palchen Düpa. Di Biara Palyul, ia menerima keseluruhan ajaran pematangan dan pembebasan Namchö, ajaran Ratna Lingpa, dan enam jilid ajaran Jatsön Nyingpo dari Je Karma Thegchog Nyingpo.
Dari Horshul Khenpo, ia menerima seluruh aliran transmisi lisan Kangyur dan Tengyur yang masih ada. Dari Khenchen Nuden, ia menerima sejumlah komentar penting: Dodrel Ziden Charkai Yodnang (Senja yang Cemerlang, komentar atas tantra Anuyoga Sutra yang Menghimpun Semua Maksud), Dodrel Munpai Gochag (Baju Zirah yang Melindungi dari Kegelapan, komentar lain atas tantra yang sama), Yonton Dzod Tsadrel (komentar akar atas Khazanah Kualitas Berharga), Umagyen Gyi Namshed (komentar atas Perhiasan Jalan Tengah), Ngedron (Panggilan Kepastian), dan lain-lain. Dari Kathog Khenpo Lekshe Jorden, ia menerima Dowang Drangtsi Chujun (Aliran Nektar, pemberdayaan Sutra yang Menghimpun Semua Maksud) dan lainnya. Dari Lungtrul Tenpai Nyima, ia menerima Nyingthig Tsapod (teks utama Ajaran Inti Hati). Dari Khenpo Pema Jigme, ia menerima sembilan teks karya Khyentse dan lainnya.
Pada tahun 1952, ia kembali mengunjungi Biara Darthang dan menerima ikrar penahbisan penuh bersama sepuluh biksu lainnya dari Chogtrul Rinpoche. Pada kesempatan itu, Kyabje Chogtrul Rinpoche, yang saat itu mengenakan jubah bhikshu lama peninggalan inkarnasi-inkarnasi sebelumnya, melepaskan jubah itu dan menyerahkannya kepada Penor Rinpoche, sebuah peristiwa yang dipandang penuh berkah bagi tegaknya jubah safron di seluruh dunia.
Ia kemudian mengunjungi berbagai tempat suci agung di Tibet tengah dan menjalani praktik sadhana dalam retret. Selama retretnya di hutan Samye Chimphu, ia meninggalkan makanan biasa dan mempertahankan satu sesi kesadaran murni selama lebih dari seminggu, yang mengagumkan para muridnya. Pada masa itu, ia menerima pemberdayaan umur panjang dari Yang Mulia Dalai Lama ke-14. Di kuil termasyhur di Lhasa, ia melakukan pelayanan keagamaan dengan mempersembahkan teh dan dana kepada beberapa ratus biksu. Setelah itu, ia kembali ke Biara Palyul dan menyampaikan seluruh ajaran harta karun Namchö yang mendalam, baik aspek pematangan maupun pembebasannya, kepada kumpulan beberapa ratus biksu.
Sesuai ramalan dari yidam dan pelindung dharmanya, ia segera berangkat ke Balingpur di India bagian timur pada tahun 1960. Selama empat bulan ia tinggal di Balingpur bersama beberapa ratus biksu, di mana ia menyelenggarakan praktik sadhana kelompok Sang Welas Asih Agung yang secara alami membebaskan dari penderitaan, diikuti seratus juta pelantunan mantra enam suku kata (Om Mani Padme Hum).
Pada tahun 1961, ia tiba di Bylakuppe, distrik Mysore, India selatan. Selama tinggal di kamp pengungsi Tibet pertama yang lama, ia memimpin akumulasi seratus juta pelantunan mantra Guru Vajra (mantra Padmasambhava). Ia juga memulai pelantunan seratus juta mantra Mani di kamp keempat yang lama, melalui praktik Sang Welas Asih Agung yang sama.
Setelah mendirikan Biara Thegchog Namdrol Shedrub Dargyeling, berbagai praktik sadhana pencapaian Kama dan Terma serta praktik retret gunung seperti Pendahuluan (Ngöndro), Saluran dan Angin Batin (Tsalung), dan Kesempurnaan Agung (Dzogchen), turut ditegakkan secara formal.
Dari tahun 1988 hingga mahaparinirwananya pada 2009, ia menganugerahkan pemberdayaan Rinchen Terzöd agung sebanyak enam kali di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Pada tahun 1993, atas permintaan seluruh anggota Aliran Nyingma Buddhisme Tibet, Yang Mulia Dalai Lama menobatkannya sebagai kepala seluruh Tradisi Nyingma Ngagyur. Ia mengemban tanggung jawab ini, mengurus banyak biara dengan baik, dan menjadi penopang bagi kebaikan Buddhadharma. Ia juga menegakkan tradisi baik mempraktikkan tiga aktivitas Vinaya di biaranya sendiri maupun di banyak biara lain di dalam dan luar Tibet. Hampir lima ribu biksu menerima ikrar penahbisan penuh sepanjang hidupnya, sehingga ajaran Vinaya yang berharga tersebar luas.
Menjadi pelindung dan pengasuh ajaran serta seluruh makhluk hanyalah satu sisi dari riwayat hidupnya yang umum diketahui. Dalam pandangan yang tidak umum, ia memiliki penglihatan akan dewa yidam-nya dan mengikat delapan kelompok pelindung dharma ke dalam pengabdian. Saat kelahirannya, bunga-bunga bermekaran di sisi kanan dan kiri kediamannya, meski saat itu bulan kedua belas, musim dingin. Sebagai anak-anak, ia pernah mengubah air dalam kendi tembaga menjadi susu, menurut pandangan orang-orang biasa yang menyaksikannya.
Selama salah satu drubchen (retret pencapaian besar) yang diselenggarakan di Bylakuppe pada tahun 1962, ia secara ajaib menuliskan mantra Manjushri pada dua cangkang kerang dengan lidahnya, yang kemudian tercetak timbul di permukaannya. Kelak, atas permintaan Khenchen Namdrol, ia kembali mencetak mantra yang sama pada cangkang kerang lain, dan atas permintaan Khenchen Jigme Phuntshog, sekali lagi ia melakukannya pada cangkang kerang berikutnya. Pada suatu sesi pemberdayaan, ia pernah membuat bulu dari sebuah kendi ritual melayang di udara tanpa penyangga apa pun. Ia juga pernah memperpanjang sebatang anak panah umur panjang sepanjang satu kaki. Semua ini dipandang sebagai bukti nyata dari jalan spiritualnya yang luhur.
Akhirnya, pada tahun 2009, ia mencapai mahaparinirwana disertai banyak tanda ajaib.
(Catatan sumber: usia para lama dalam biografi-biografi ini dihitung menurut sistem astrologi Tibet, di mana seseorang sudah dianggap berusia satu tahun sejak hari kelahirannya.)