Silsilah
Jejak ajaran Buddha di Tibet, dari raja-raja Dharma hingga enam biara induk Nyingma.
Menurut catatan sejarah Tibet, banyak dari raja-raja negeri ini diyakini sebagai perwujudan tiga pelindung agung: Avalokiteshvara (welas asih), Manjushri (kebijaksanaan), dan Vajrapani (kekuatan). Ajaran Buddha pertama kali menjejakkan diri di Tibet pada tahun 433 Masehi, pada masa pemerintahan raja ke-28, Lha-Tho-Tho-Ri-Nyentsen. Konon, ketika sang raja berusia 60 tahun, sebuah kitab suci bernama Pang Kong Chag Gya Pa beserta beberapa benda religius lain turun ke atap istananya, sebuah peristiwa yang dalam tradisi Tibet dipandang sebagai awal mula turunnya dharma ke negeri itu.
Pada masa Raja Songtsen Gampo (617–698), raja ke-33, aksara Tibet diciptakan untuk pertama kalinya, dan ratusan kuil didirikan, termasuk Rasa Thrulnang (kini dikenal sebagai Jokhang). Puluhan ajaran sutra diterjemahkan menjadi berbagai pelajaran, dan aturan sepuluh tindakan bajik serta enam belas prinsip keduniawian mulai ditetapkan sebagai pedoman hidup. Periode inilah yang dalam sejarah Tibet dianggap sebagai masa ketika dharma Buddha benar-benar berakar kuat di tanah itu.
Raja ke-38, Trisong Deutsen (790–858), membawa penyebaran ajaran Buddha ke seluruh penjuru Tibet dengan mengundang 108 sarjana dan master besar dari India, tanah para Arya, termasuk Guru Padmasambhava, Acharya Shantarakshita, dan Pandita Vimalamitra. Sejumlah penerjemah ulung seperti Vairocana, Kawa Peltseg, Chongro Lui Gyaltsen, dan Zhang Yeshe De menerjemahkan sebagian besar ajaran sutra dan tantra yang saat itu berkembang di India.
Guru Rinpoche sendiri, melalui kekuatan gaibnya, membawa berbagai ajaran esoterik dari Tantra Tak Tertandingi dari banyak tempat, tidak hanya dari India tetapi juga dari negeri-negeri lain, bahkan dari alam bukan manusia, demi kebaikan makhluk-makhluk di Tibet. Melalui upaya ini, ajaran Sembilan Yana tersebar luas ke setiap penjuru Tibet, bagaikan sinar matahari yang menjangkau segala arah.
Pada masa Raja Tri Relpachen (866–901), raja ke-41, karya-karya terjemahan sebelumnya disunting dan dirapikan. Pada periode ini pula dua golongan praktisi mulai diakui secara resmi: para bhikkhu tertahbis berkepala gundul dengan jubah marun, dan para praktisi awam berambut kepang dengan busana putih (para praktisi tantra, atau ngakpa).
Seiring waktu, semakin banyak sarjana dan master datang ke Tibet untuk mewariskan ajaran sutra dan tantra, yang terus dipraktikkan tanpa henti hingga sekarang. Karena perbedaan masa penerjemahan, muncullah dua tradisi besar: Ngagyur Nyingmapa (tradisi “terjemahan awal”) dan Sarmapa (tradisi “terjemahan belakangan”). Uraian di atas adalah gambaran singkat tentang bagaimana Ngagyur Nyingmapa berawal, berkembang, dan akhirnya tersebar ke seluruh negeri.
Tradisi Nyingma menaungi dua jenis transmisi ajaran. Kama adalah ajaran tantra dalam yang mendalam, yang diajarkan langsung oleh Buddha dalam wujud Dharmakaya atau Sambhogakaya, dan diwariskan secara berkesinambungan dari satu master besar ke master berikutnya hingga sampai ke guru akar yang hidup saat ini. Terma adalah ajaran yang disembunyikan oleh Guru Rinpoche demi kepentingan makhluk-makhluk di masa depan, untuk kemudian ditemukan kembali oleh master-master yang telah mencapai realisasi tinggi.
Biara-biara besar yang mempraktikkan baik ajaran Kama maupun Terma dikenal sebagai “ma-gon”, atau biara induk. Biara-biara yang lebih kecil yang tumbuh dari biara induk disebut “bu-gon”, biara anak, sementara biara-biara yang lebih kecil lagi yang lahir darinya disebut “yang-gon”, biara tambahan atau cucu.
Pada masa lampau, terdapat dua versi daftar enam biara induk Nyingma. Daftar yang lebih tua menyebutkan Dorje Drag, Mindroling, dan Palri di Tibet bagian atas, serta Kathok, Palyul, dan Dzogchen di Tibet bagian bawah. Setelah Biara Chongye Palri Thegchog Ling mengalami kemunduran dan Biara Zhechen berkembang pesat, susunan biara induk pun berubah menjadi: Dorje Drag dan Mindroling di wilayah atas, Zhechen dan Dzogchen di wilayah tengah, serta Kathok dan Palyul di wilayah bawah. Keenam biara induk agung ini terus menjaga keunikan ajaran Nyingma hingga hari ini, dengan pengaruh yang menjangkau semakin luas. Palyul, tempat lahirnya silsilah yang diwarisi vihara ini, adalah salah satu dari keenam biara tersebut.
Sejak Rigzin Kunzang Sherab menerima tahta pertama pada 1665, kepemimpinan Biara Palyul telah diwariskan secara berkesinambungan melalui dua belas generasi pemegang tahta. Setiap pemegang tahta tidak hanya melanjutkan tanggung jawab administratif biara, tetapi juga menjaga keutuhan transmisi ajaran Kama dan Terma agar tetap mengalir tanpa terputus sampai ke masa kini.
Berikut urutan dua belas pemegang tahta Palyul, sebagaimana tercatat di situs resmi Biara Namdroling:
Ringkasan sejarah di halaman ini disusun ulang berdasarkan catatan yang dipublikasikan oleh Biara Namdroling, biara induk tradisi Palyul di India. Ejaan nama dan penanggalan bisa sedikit berbeda antar sumber.