Silsilah
Salah satu dari enam biara utama tradisi Nyingma.

Biara Palyul, Kham, Tibet. Foto: NoGhost · CC BY-SA 4.0
Di dataran tinggi Kham, wilayah Dokham di Tibet bagian bawah, terdapat sebuah tempat bernama Palyul yang terletak di kawasan Drida Zalmo. Sejak lama tempat ini dikenal memiliki seluruh ciri tanah suci sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab suci, dan banyak master agung yang telah mengunjungi serta memberkatinya.
Jejak spiritual di Palyul sudah dimulai jauh sebelum biara besarnya berdiri. Pada tahun 890, Tsugru Rinchen Shonu dan Kyere Chogkyong bersama-sama mendirikan sebuah pusat retret di sana. Selama berabad-abad setelahnya, banyak pemegang kesadaran (vidyadhara, sebutan untuk praktisi yang telah merealisasikan sifat pikiran) datang untuk berlatih dan menyebarkan Trilogi Dho-Gyu-Sem, tiga jalur ajaran inti dalam Nyingma: Dho (Sutra yang Menghimpun Semua Maksud, tantra Anuyoga), Gyu (Tantra Jaring Ajaib, tantra Mahayoga), dan Sem (Tantra Kelas Pikiran, tantra Atiyoga).
Baru pada tahun 1664, Tahun Ular Api dalam siklus Rabjung kesebelas (siklus kalender Tibet yang berputar setiap 60 tahun), dan sesuai ramalan sejumlah makhluk mulia, biara besar berdiri di tempat itu atas prakarsa Raja Dharma Dege, Lachen Jampa Phuntsog, bersama Perdana Menterinya, Trichen Sangye Tenpa. Biara inilah yang kemudian dikenal sebagai Biara Palyul.
Sang Raja semula meminta Serlo Tonpa Gyaltsen untuk menjadi pemegang tahta pertama, namun beliau menolak karena usianya yang sudah lanjut. Tahta itu kemudian diserahkan kepada Rigzin Kunzang Sherab (1636–1698), yang menerimanya pada 1665, Tahun Kayu Ular, saat berusia 30 tahun.
Di bawah kepemimpinannya, tiga disiplin Vinaya ditegakkan: Sojong (pemurnian sila secara berkala), Yarney (retret musim hujan), dan Gagye (pelepasan pembatasan retret). Ia juga menetapkan praktik ajaran Kama (transmisi lisan yang tak terputus) dan Terma (ajaran tersembunyi yang ditemukan kembali) sebagai fondasi utama biara, sehingga doktrin Nyingma dapat berkembang luas dari Palyul.
Sejak Rigzin Kunzang Sherab, tahta Palyul telah diwariskan turun-temurun kepada:
Melalui mereka, seluruh ajaran sutra dan tantra, termasuk ilmu-ilmu tradisional seperti tata bahasa, logika, dan puisi, terus terjaga dan diwariskan hingga hari ini.
Lihat detail lengkap 12 pemegang tahta →Ajaran Tantra Tak Tertandingi pertama kali dianugerahkan oleh Guru Dharmakaya Samantabhadra, dalam wujud Vajradhara, kepada lima keluarga Buddha melalui apa yang disebut silsilah pikiran para penakluk. Ajaran ini kemudian diteruskan secara simbolis kepada para vidyadhara, baik yang berwujud manusia maupun bukan, hingga sampai kepada Garab Dorje, guru besar Dzogchen.
Dari Garab Dorje, ajaran diwariskan melalui silsilah pendengaran kepada tiga tokoh besar: Guru Padmasambhava, Pandita Vimalamitra, dan penerjemah agung Vairocana. Rangkaian penuh dari ketiga jalur transmisi ini kemudian diterima oleh Nyag Gyanakumara, lalu diteruskan kepada Nubchen Sangye Yeshe dan Zurchen Choying Rangdrol, lengkap dengan empat aliran ajaran (aliran pemberdayaan, aliran instruksi, aliran naskah, dan aliran aktivitas pencapaian).
Rigzin Kunzang Sherab, pemegang tahta pertama Palyul, menerima keseluruhan silsilah ini, dan sejak itu ajaran Kama terus mengalir tanpa terputus hingga masa sekarang.
Selain Kama, Palyul juga menjadi rumah bagi silsilah Terma, ajaran tersembunyi yang ditemukan kembali oleh para tertön (penemu harta karun spiritual) pada waktu yang telah ditentukan. Dua ajaran penting, Kagye Desheg Dupa dari Nyangrel Nyima Ozer (1124–1192) dan Kagye Sangdzog dari Guru Chowang (1212–1270), diteruskan kepada Zhigpo Lingpa (1524–1583) sebelum akhirnya sampai kepada Rigzin Kunzang Sherab.
Di tangan beliau, berbagai upacara penting mulai ditegakkan di Biara Palyul, di antaranya Drubchen (praktik pencapaian agung), Drubchod (puja pencapaian), dan Mendrub (praktik pencapaian obat suci). Beliau juga menerima tiga siklus ajaran penghimpun, yaitu Thugchen Yang-Nying Dupa (inti sari welas asih agung), Lama Sangdue (penghimpun seluruh rahasia guru), dan Lama Gongdue (penghimpun seluruh maksud guru).
Yang tak kalah penting, Rigzin Kunzang Sherab menerima seluruh ajaran terma dari Ratna Lingpa (1403–1479), yang kemudian diperoleh kembali oleh Tertön Mingyur Dorje (1645–1667) melalui penglihatan sebagai ajaran penglihatan murni (dag nang). Ia juga menerima langsung ajaran terma Namcho dari Mingyur Dorje, serta ajaran-ajaran dari Karma Lingpa dan Rigzin Jatson Nyingpo (1585–1656). Seluruh ajaran ini dijaga dan disebarluaskan oleh para pemegang tahta Palyul selanjutnya, membawa manfaat bagi tak terhitung banyak makhluk.
Mendiang Yang Mulia Padma Norbu Rinpoche, pemegang tahta kesebelas, mendedikasikan hidupnya untuk menjaga dan menyebarkan ajaran-ajaran ini, baik di biara induk maupun cabang-cabang Palyul di dalam dan luar Tibet, hingga akhir hayatnya. Kini, tanggung jawab besar itu diemban oleh Yang Mulia Karma Kuchen Rinpoche sebagai pemegang tahta kedua belas.
Informasi sejarah dan silsilah di halaman ini disusun ulang berdasarkan catatan yang dipublikasikan oleh Biara Namdroling, biara induk tradisi Palyul di India. Ejaan nama dan penanggalan bisa sedikit berbeda antar sumber. Untuk detail yang berkaitan langsung dengan posisi vihara ini dalam silsilah Palyul, mohon konfirmasi kepada Lopon Nyima Wodzer Rinpoche.
* Sumber: Namdroling Monastery