Silsilah
Pendiri dan pemegang tahta pertama Biara Palyul.

Kedatangan Rigzin Kunzang Sherab sebagai pemegang tahta pertama Palyul telah diramalkan jauh sebelumnya dalam teks terma Gongdu Kagyama. Ramalan itu menyebutkan seorang biksu senior yang, berkat welas asih seorang raja, akan memegang samaya (ikrar suci) atas perbendaharaan ajaran rahasia, dan meramalkan bahwa kelak akan lahir seseorang bernama berkaitan dengan kata "Prajna" (kebijaksanaan) yang akan menggunakan ajaran bermakna dalam ini untuk menyebarkan Gongdu, hamparan tunggal pikiran kebijaksanaan. Karena "Sherab" sendiri berarti "kebijaksanaan" dalam bahasa Tibet, para pengikut Palyul lama meyakini ramalan ini merujuk langsung kepadanya.
Sesuai ramalan tersebut, Rigzin Kunzang Sherab lahir pada tahun 1636 di sebuah desa bernama Ahchog, dari ayahnya Dorje dan ibunya Guru Tso. Di hadapan gurunya, Chöchong Gyatso, ia mempersembahkan rambut di ubun-ubunnya dan menerima ikrar praktisi awam, mengambil perlindungan pada Tiga Permata. Sejak itu, tekad pelepasan tumbuh dalam dirinya, dan ia memutuskan kemelekatannya pada fenomena kehidupan ini dengan sungguh-sungguh.
Kelak, ia ditahbiskan penuh di hadapan Chagme Rinpoche dan diberi nama Rigzin Kunzang Sherab. Dari pemegang vajra Gyaben Konchog Tashi, ia menerima sebagian besar tantra Nyingma, termasuk tujuh belas tantra dari periode terjemahan awal Nyingma. Trulzhig Tenpa Gyaltsen pun secara luas menganugerahkan instruksi pematangan kepadanya. Rigzin Kunzang Sherab sendiri menyebut Trulzhig sebagai guru akarnya yang istimewa, yang memperkenalkannya pada hakikat bawaan kesadaran.
Pada masa pemerintahan Raja Dharma Dege, Jampa Phuntsog, Menteri Dege Sangye Tenpa bersama sang raja memperluas sebuah biara kecil yang terletak di tempat bernama Namgyal Tse. Sang pertapa Serlo Tenpa Gyaltsen semula diundang untuk menjadi pemegang vajra di sana, namun ia menolak karena usianya yang sudah lanjut. Ia justru menyarankan agar Lama Kunzang Sherab yang diundang, karena menurutnya kehadiran Kunzang Sherab akan membawa manfaat luas bagi ajaran dan bagi semua makhluk.
Undangan itu pun disampaikan, dan pada tahun 1665, ia tiba di biara tersebut bertepatan dengan upacara peresmian yang penuh berkah. Biara itu kemudian diberi nama penuh makna: Namgyal Jangchub Chöling.
Langkah pertamanya adalah menganugerahkan ikrar pembebasan pribadi kepada seluruh komunitas sangha, menegakkan tiga aktivitas Vinaya sebagai landasan, dan mengikat batin mereka dengan sila dari dua tradisi. Dengan menopang instruksi pematangan secara utuh, mulai dari pelatihan pikiran pendahuluan yang umum hingga Namchö Dzogchen (Buddha dalam Genggaman Tangan) yang tidak umum, biara ini pun berkembang menjadi komunitas besar bagi pengajaran dan praktik.
Lebih jauh, silsilah lisan seperti Dü Dho Tsogchen Düpa diwariskan kepadanya dari berbagai pemegang ajaran, dan praktik pencapaian Kama, Terma, serta Penglihatan Murni beserta mandala-mandalanya baru saja ditegakkan di sana. Hingga hari ini, berkah dari silsilah-silsilah tersebut terus berkembang tanpa surut.
Sebagai pemegang Vinaya tertinggi, ia menganugerahkan penahbisan penuh kepada murid-murid pertamanya. Para master yang pencapaiannya tak terhingga, seperti Dzogchen Pema Rigdzin, Pema Lhundrup Gyatso, dan Drubwang Pema Norbu, menerima instruksi mendalam langsung darinya.
Tidak hanya itu, demi kepentingan para murid di masa depan, ia juga menyusun instruksi pendahuluan untuk Namchö Buddha dalam Genggaman Tangan, serta ajaran-ajaran yang setara jumlahnya dengan lima ilmu pengetahuan besar tradisional, yang disimpan khusus bagi murid-murid yang berjodoh baik.
Pada tahun 1698, dalam usia 63 tahun, Rigzin Kunzang Sherab melarutkan wujud jasmaninya untuk sementara ke dalam hamparan dharmadhatu, realitas hakiki.