Silsilah
Pemegang tahta kesembilan Biara Palyul.

Menjelang mahaparinirwananya, Drubwang Pema Norbu Rinpoche (pemegang tahta ketiga) meramalkan bahwa ia akan terlahir kembali di pusat monastik yang sama, tepat ketika pohon juniper di dekat pondoknya berbuah. Sesuai ramalan itu, ia terlahir kembali pada tahun 1887 dengan nama Rigdzin Palchen Düpa. Khenchen Ngawang Palzang bersama banyak master mulia lainnya mengenalinya sebagai reinkarnasi Drubwang Pema Norbu Rinpoche.
Pada usia tujuh tahun, ia diundang ke Biara Palyul dan dinobatkan dengan upacara yang megah. Ia menerima ikrar samanera dari Je Chökyi Nyima serta banyak ajaran mendalam lainnya. Kelak, ia ditahbiskan penuh oleh Khenchen Ngawang Palzang dan diberi nama Thubten Chökyi Langpo. Karena menjaga sila Vinaya dengan ketat, ibarat menjaga biji matanya sendiri, ia menjadi kepala bagi seluruh biksu dan biksuni yang tertahbis.
Ia menerima seluruh instruksi inti Kesempurnaan Agung dari silsilah lisan, dan merealisasikan hakikat bawaan kebijaksanaan primordial, penyatuan kesadaran dan kekosongan. Sebuah ramalan terma dari Sang-ngag Lingpa menyebutkan bahwa kelak akan berdiri sebuah shedra (universitas biara) di pusat retret Palyul, dan ajaran-ajaran sutra yang belum pernah ada sebelumnya akan berkembang di sana. Sesuai ramalan itu, pada tahun 1923 ia mendirikan shedra baru bernama Thösam Norbu Lhünpo, lengkap dengan kuil dan representasi suci di dalamnya. Khenpo Ngagi Wangpo mengambil tanggung jawab pengajaran dharma, menekankan tradisi filsafat "Empat Master Mahatahu" serta kajian atas Sutra yang Menghimpun Semua Maksud, Jaring Ajaib, dan Kelas Pikiran, yang berkembang subur bagaikan telaga yang meluap di musim panas.
Singkatnya, Rigzin Palchen Düpa hanya terlibat dalam aktivitas tercerahkan demi mematangkan ajaran dan seluruh makhluk. Pada tahun 1932, dalam usia 46 tahun, kesadaran kebijaksanaannya larut ke dalam dharmadhatu.