Silsilah
Sang penemu harta karun Dharma (terton) dan guru akar pendiri Palyul.

Guru Padmasambhava dikisahkan telah menyembunyikan ratusan ribu terma, ajaran dan harta suci yang disembunyikan untuk digali kembali di masa depan, demi kebaikan makhluk-makhluk di zaman kemerosotan. Beliau juga meramalkan kapan dan di mana masing-masing terma itu akan ditemukan kembali. Salah satu ramalannya menyebutkan bahwa kelak, di dekat Rinchen di wilayah Kham, akan lahir seseorang bernama Dorje yang membawa daftar harta ajaran tersembunyi, ditandai dengan tahi lalat yang melambangkan tercapainya tiga kaya (trikaya: dharmakaya, sambhogakaya, nirmanakaya) secara spontan. Menurut ramalan itu, siapa pun yang melihat atau mendengar namanya tidak akan lagi terlahir di alam-alam rendah.
Sesuai ramalan tersebut, Tertön Migyur Dorje lahir dari ayahnya, Gonpo Tseten, dan ibunya, Sonam Tso, pada Tahun Burung Kayu dalam siklus Rabjung kesebelas (1645), di sebuah wilayah bernama Nhom Tod Rola. Kedua orang tuanya masing-masing mengalami mimpi ajaib saat beliau berada dalam kandungan. Sang ibu bermimpi melihat seekor kura-kura emas yang memancarkan cahaya di dasar samudra luas, disaksikan banyak orang yang terpukau, hingga sesosok makhluk agung mengangkat kura-kura itu dan mempersembahkannya kepadanya. Sang ayah pula bermimpi menemukan sebuah kerang putih yang indah, sementara dirinya sendiri meniup terompet dharma besar dari tembaga.
Seperti kelahiran Buddha, Tertön Migyur Dorje dilahirkan tanpa menimbulkan rasa sakit sedikit pun bagi ibunya. Ayahnya adalah keturunan garis Shakya Litsabi, garis leluhur yang sama dengan Buddha Shakyamuni dan para raja Dharma Tibet, yang menurut tradisi merupakan keturunan para dewa cahaya.
Persis seperti yang diramalkan Guru Rinpoche, beliau lahir dengan tanda tahi lalat biru di tangan kanannya, melambangkan hakikat tunggal Dharmakaya. Sejak kecil, tingkah lakunya berbeda dari anak-anak lain. Ia kerap membentuk mudra (posisi tangan simbolis) dengan tangan dirapatkan di depan dada, dan yang mengejutkan banyak orang, ia bahkan melakukan latihan yoga rahasia sejak usia sangat muda.
Begitu bisa berbicara, ia mengaku sebagai reinkarnasi seorang Lama Kathog bernama Tsultrim Dorje, dan mampu menjelaskan secara rinci tata letak Biara Kathog beserta kebiasaan dan nama-nama biksu yang tinggal di sana. Suatu hari ia mengalami penglihatan tentang Guru Loden Chogsed, salah satu dari Delapan Manifestasi Guru Padmasambhava, dan melalui isyarat transmisi dari penglihatan itu, ia seketika memahami cara membaca dan menulis.
Pada usia tujuh tahun, dalam sebuah penglihatan murni, berbagai dewa kebijaksanaan muncul dan mendesaknya agar bersandar pada bimbingan seorang guru spiritual. Seketika itu pula, sosok Mahasiddha Karma Chagmed, yang saat itu sedang menjalani retret sunyi, muncul dalam penglihatannya. Sejak saat itu, keinginannya untuk berada di hadapan Karma Chagmed tak lagi bisa disembunyikan.
Pada usia sepuluh tahun, tepatnya hari kedelapan bulan kesembilan Tahun Kuda Kayu, ia akhirnya bertemu langsung dengan Mahasiddha Karma Chagmed dan menerima pemberkatan serta pemurnian Nam Jom (Sang Penakluk Vajra) dan Dor Sem (Vajrasattva). Karma Chagmed mengamati dengan saksama tanda-tanda pada diri Migyur Dorje, dan menyimpulkan bahwa anak ini memiliki seluruh ciri perwujudan sempurna dari Guru Padmasambhava. Karma Chagmed pun menganugerahkan kepadanya instruksi rahasia Thugdrub Yang Nying Dupa (Inti Sari Terpadat dari Pencapaian Pikiran, sebuah terma dari Ratna Lingpa terkait aspek nirmanakaya Padmasambhava). Ketika menerima ajaran tentang menumbuhkan welas asih bagi semua makhluk, air mata mengalir di pipinya.
Banyak tanda menakjubkan lain menegaskan kekuatan realisasi batinnya yang telah ada sejak lahir. Sesungguhnya ia telah memegang seluruh pemberdayaan dan transmisi tersebut, namun demi memperdalam keyakinan para murid, ia memilih tampil seolah baru menerimanya. Dari gurunya, Karma Chagmed, ia pun menerima puluhan pemberdayaan dan transmisi lain, serta menempuh pelatihan menyeluruh dalam berbagai bidang ilmu yang menjadi fondasi tradisi Nyingma.
Pada usia sebelas tahun, hari kesembilan bulan pertama Tahun Domba Kayu, Migyur Dorje memasuki retret bersama gurunya, Mahasiddha Karma Chagmed. Selama mempraktikkan Tsedrub Sangdu (Pencapaian Rahasia Kehidupan yang Terpadat) karya Tertön Ratna Lingpa dan menyelesaikan mandala luasnya, ia terus-menerus mengalami penglihatan akan Buddha Amitayus, Padmasambhava, Hayagriva Merah, Enam Belas Arhat, Amitabha, Avalokiteshvara, dan banyak yidam lainnya. Ia juga berulang kali melihat para dharmapala (pelindung dharma) seperti Vishnu, Mahakala, dan Damchen Merah, yang tampak sangat berkenan dan puas.
Sebagai tanda pencapaiannya, ia pernah mencegah gerhana bulan hanya dengan menahan angin vitalnya (prana), dan mampu mengetahui isi pikiran orang lain.
Tertön Migyur Dorje mengalami penglihatan akan Buddha primordial Samantabhadra, Dharmakaya sejati, yang melalui sebuah isyarat menganugerahkan kepadanya pemberdayaan Tsewang Dudtsi Gegsel (Pemberdayaan Umur Panjang dengan Nektar Penjernih Kekuatan Penghalang). Selanjutnya, Avalokiteshvara dalam wujud Sambhogakaya muncul dan, sesuai tradisi Thugje Chenpo Gyu, menganugerahkan pemberdayaan dan transmisi luas Drubtab Gyatso (Samudra Metode Pencapaian) yang mencakup empat puluh sosok yidam. Kemudian Padmasambhava dalam wujud Nirmanakaya menganugerahkan empat pemberdayaan lagi. Seluruh transmisi ini dicatat secara tertulis, lengkap dengan sadhana dan pemberdayaan otorisasi masing-masing dewa kebijaksanaan maupun pelindung dharma duniawi yang terlibat.
Keseluruhan catatan ini kemudian dihimpun menjadi Tiga Belas Jilid yang dikenal sebagai Namcho (Harta Karun Angkasa). Tertön Migyur Dorje sendiri mempraktikkan, merealisasikan, dan menyempurnakan setiap Harta Karun Angkasa yang rahasia ini. Ia juga meramalkan tiga siddha yang telah terealisasi, yaitu Pedma Rigzin, Mahasiddha Karma Chagmed (dikenal pula sebagai Raga Ah Sye), dan Thinley Dondrub, sebagai penjaga ajaran yang ditunjuk. Kepada ketiganya inilah ia pertama kali mengungkapkan Mandala Avalokiteshvara.
Selain ketiga penjaga utama itu, sejumlah pemegang ajaran lain juga ikut ambil bagian, di antaranya Je Drungpa Rinpoche, Trulku Gelong Nyingpo, Garwang Konchog Tenzin, Tashi Karma Tenyong, Tsonsar Lama Karma Tenyong, Jangdra Lama Gyatso, Puba Bhaka Trulku, Lama Damchoe Palzang, Yangdag Tutob, dan sang Vidyadhara agung Kunzang Sherab sendiri, pemegang tahta pertama Palyul. Terhubung melalui doa-doa masa lampau serta dibantu para dakini dan pelindung dharma, mereka bersama-sama menyebarkan ajaran Namcho ke berbagai penjuru Tibet, hingga menjangkau para murid berjodoh baik dari kehidupan sebelumnya. Komunitas sangha besar di Biara Karmapa, Biara Kathog, dan Biara Palyul menjadi pusat-pusat utama praktik ajaran Namcho ini.
Sesungguhnya, Tertön Migyur Dorje juga ditakdirkan untuk mengungkap terma-terma bumi. Namun, karena kurangnya jasa kebajikan dan keberuntungan makhluk pada masa itu, berbagai kondisi yang diperlukan tidak dapat terpenuhi, sehingga masa hidupnya di dunia pun menjadi lebih singkat. Pada usia 23 tahun, tahun 1667, ia mulai menunjukkan tanda-tanda sakit. Pada hari keenam belas bulan ketiga, sambil melantunkan mantra di ranjangnya, kesadarannya larut ke dalam ranah kebenaran mutlak, dan jasadnya tetap duduk tegak dalam samadhi selama tiga hari.
Saat kremasi berlangsung, berbagai tanda menakjubkan disaksikan oleh semua yang hadir. Jantung dan lidahnya tetap utuh tak terbakar api, sebuah tanda yang dimaknai ganda: bahwa beliau tidak pernah meninggalkan kepeduliannya terhadap kesejahteraan makhluk, sekaligus sebagai ladang jasa kebajikan bagi para murid di masa mendatang. Relik-relik suci peninggalannya bahkan bertanda huruf hidup dan huruf mati dalam aksara Tibet, yang kemudian disemayamkan di dalam banyak stupa emas. Stupa-stupa agung ini hingga kini menjadi objek perlindungan dan pradaksina (mengelilingi dengan penuh hormat) bagi para penganut yang berjodoh dan penuh keyakinan.