Silsilah
Pembangun kembali Biara Palyul di Tibet.

Chogtrul Thubzang Rinpoche lahir pada tahun 1936 dari ayahnya, Dungsey Tshewang Rinchen, dan ibunya, Pey Choe, dalam garis keturunan keluarga Drubwang Rinpoche kedua (yakni Drubwang Palchen Düpa, pemegang tahta kesembilan Palyul).
Khenpo Ngaga mengenalinya sebagai reinkarnasi sejati dari Gyangkhang Tulku, dan ia pun menerima ikrar perlindungan sekaligus menjalani upacara pemotongan rambut. Ia belajar membaca dan menulis dari Jangta Lama Tse-Bum. Kelak, ia dinobatkan oleh Chogtrul Chökyi Dawa Rinpoche dan Karma Thegchog Nyingpo Rinpoche (pemegang tahta kesepuluh). Dari Chongtrul Rinpoche, ia menerima ikrar penahbisan serta pemberdayaan Rinchen Terzöd, sementara transmisi lisan Rinchen Terzöd ia terima dari Khenpo Lodoe.
Ia mempelajari dan menguasai seni ritual tradisi Palyul dari Lama Wangden, Lama Tsering, Nyenmo Lama Jamyang, dan lainnya, yang kelak membuatnya mampu membimbing seluruh biara Palyul di Tibet dan India. Pada usia tiga belas tahun, ia mempelajari Tarian Akar Dewa-Dewa Damai dan Murka dari Jaring Ajaib, serta merampungkan seratus ribu kali pelantunan mantra RULU. Selama sekitar enam tahun, ia memimpin Tarian Akar tersebut sebagai pemimpin utama.
Ia menerima berbagai pemberdayaan, transmisi lisan, dan instruksi Kama serta Terma dari Karma Thegchog Nyingpo, Khenpo Lekshed Jorden, Yang Mulia Drubwang Rinpoche ketiga (Penor Rinpoche), Ajom Gyelse Jurmed Dorji, dan lainnya. Dari Khenpo Nueden, Khenpo Gondrub, Haja Khenpo Sonam Dondep, Horshul Khenpo Pema Jigme, Mugsang Tsering Lama, dan lainnya, ia mempelajari seluruh ajaran sutra dan tantra, baik yang umum maupun yang istimewa.
Pada usia dua puluh tahun, ia melakukan perjalanan ziarah bersama Yang Mulia Drubwang Rinpoche. Ia juga terbiasa menjalani retret dari waktu ke waktu untuk melakukan pelantunan.
Ia memiliki keyakinan yang istimewa kepada Lama Lungtok Chogtrul Rinpoche Loday Shedrub Tenpai Nima. Dari beliaulah ia menerima ikrar penahbisan serta berbagai pemberdayaan dan transmisi lisan dari Longchen Nyingthig, termasuk Nyingthig Yabzhi, di antara ajaran-ajaran lainnya.
Pada tahun 1982, Yang Mulia Thubzang Rinpoche tiba di Biara Palyul dan membangun kembali kuil-kuil yang telah rusak, sembari mengemban seluruh tanggung jawab biara. Demi kebaikan Buddhadharma dan semua makhluk hidup, ia membangun balok cetak kayu (xilografi) untuk teks-teks Kama, yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diselesaikan. Setelah proses pembangunan kembali dan renovasi ini, shedra (universitas biara) pun mulai dijalankan kembali. Asrama dan ruang kelas dibangun, begitu pula pagar pusat retret.
Yang Mulia memberikan kontribusi besar dalam menghidupkan kembali Buddhadharma dari titik yang begitu kritis, dengan menganugerahkan pemberdayaan dan transmisi Kama dan Terma secara luas di Biara Namdroling maupun di banyak biara Palyul lainnya, sehingga silsilah pematangan dan pembebasan pun bangkit kembali. Sekali lagi, demi Buddhadharma dan semua makhluk, ia membangun 255.978 kitab suci. Pada 10 Januari 2021, bertepatan dengan tanggal 27 bulan kesebelas penanggalan Tibet, Yang Mulia mencapai mahaparinirwana.
* Sumber: Namdroling Monastery